(suasana panggung saat gladi bersih grand final)


Gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah menjadi saksi bisu kehebohan Grand Final KiHAJAR Award 2008. Sang Penulis terlibat langsung di dalamnya (maksudnya jadi peserta). KiHAJAR Award merupakan acara yang diselerenggarakan TVE (Televisi Edukasi) di bawah naungan Pustekkom dan Depdiknas (tapi disiarkan ulang di tvOne). Acara ini adalah lomba yang paling heboh menurut saya. Mayoritas orang tidak mengetahui adanya kuis ini. Saat mendengar nama kuis ini, bayangan kita mungkin tertuju pada tokoh pejuang pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Tetapi, KiHAJAR merupakan sebuah akronim (singkatan) dari Kita Harus Belajar. Acara ini menguji kemampuan siswa/i SMP / MTs / sederajat yang berada di seluruh Nusantara (semoga tidak ada “main-main”-nya) dalam 4 mata pelajaran yang di-UN-kan (Bhs. Indonesia, Matematika, Bhs. Inggris, IPA). Para siswa mengikuti seleksi harian yang soalnya ditayangkan di TV (seperti kuis SMS) untuk mengambil 420 siswa dari ±20.000 siswa SMP / MTs yang kemudian dijaring di tingkat provinsi. Di tingkat provinsi, hanya 50 besar se-nasional yang diambil (itu pun tidak melihat asal provinsi). Jawa Tengah pun kebagian 5 tiket untuk ke ibukota (termasuk saya).

Dari Jawa Tengah ada Nicco Della, Misbachul Muiz, Wisnu Murti, Natasha Sutedja, dan termasuk si penulis. Natasha, peserta asal Pekalongan, merupakan peserta termuda se-Indonesia mengingat ia masih duduk di kelas 7. Kakaknya pun pernah memenangkan kompetisi ini tahun lalu. Sedangkan Nicco, anak yang bersekolah di SMPN 8 Semarang, merupakan teman SD saya. Suatu kebetulan yang teramat sangat.

Sejak dari tingkat provinsi

18 Oktober 2008 - Surat berkop Depdiknas | Pustekkom datang ke sekolah. Bu Etty menerima surat tersebut. Di dalam surat tersebut, sudah ada daftar pesertanya. Kebetulan, dari sekolahku ada 3 orang. 3 orang tersebut yaitu Via, Ajeng, dan si penulis. Ruang guru pun heboh. Setelah berdiskusi dengan Bu Etty, maka diputuskan untuk berangkat ke tempat karantina besok harinya. SLB Negeri Semarang dipilih untuk tempat karantina, sedangkan tempat seleksinya bertempat di TVKU (Televisi Kampus Universitas Dian Nuswantoro [UDINUS]). Bersama Bu Etty, Pak Jack, dan 2 orang teman saya, Ajeng dan Via, langsung bergegas ke tempat karantina. Saat di SLB, banyak peserta yang sudah datang, bahkan ada peserta yang sudah datang pukul 8 pagi. Panitia baru datang pukul 14.15. Kami langsung regristasi terlebih dahulu (biar dapet kamar enak).

(Proses regristrasi di SLB Negeri Semarang)

Malamnya, panitia menggelar technical meeting. Sayang, jadwal yang kurang on time inilah yang membuat para peserta agak bingung sedikit. Tapi, tak apalah. Para peserta mendapatkan tas laptop yang berisi kaos, pernak-pernik TVE, dsb. Di sela-sela technical meeting, ada hiburan dari SLB Negeri yang membuat kami trenyuh. Kharisma, anak autis, ini sangat menyentuh hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Ia sanggup menghafal >600 lagu. Keunikan lainnya adalah dapat mengingat berbagai peristiwa lengkap dengan tanggalnya. Si penulis pun haru. Waktu tak terasa menyentuh pukul 22.00. Saatnya istirahat, tapi tidak untuk si penulis. Saya pun belajar sedikit-sedikit. Karena minum kopi seteguk, saya seperti tidak ngantuk.

(dari ki-ka: Via, Ajeng, si penulis)

19 Oktober 2008 - Para peserta telah berkumpul di lapangan untuk diberi pengarahan. Bus dari UDINUS pun sudah ready. Bagi para pendamping yang tidak kebagian tempat duduk, terpaksa nunut (ikut) ke mobil peserta yang lain. Bus ini pun melewati rumah saya. Jadi, orang tua yang ada di rumah melambaikan tangan bila bus lewat. Suatu kebetulan lagi. Para peserta tiba di Aula TVKU pukul 08.00, tapi acara seleksi dimulai pukul 10.30. Soalnya pun masih basic (kebanyakan soal-soal kelas 7 SMP). Setelah acara seleksi, para peserta diajak tour keliling TVKU. Penulis pun berkesempatan untuk mencoba menjadi news reader (seperti saat di KidZania).

(penulis menjajal menjadi news reader)

Tapi, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30. Inilah saatnya yang paling ditunggu. Semua orang yang ada di aula sudah pasrah. Pengumuman diumumkan secara live. Satu per satu nama dipanggil. 4 orang yang sudah saya ceritakan sebelumnya sangat girang sekali. Bahkan, Nicco pun sujud syukur (sama seperti si penulis). Bu Etty pun hampir copot jantungnya. “Mbok rakketan siji wae sing melu ning Jakarta (Coba kalau satu saja yang ikut ke Jakarta)”.

“Alhamdulillah, aku lolos, Ya Allah.”. Lolos ke Jakarta bukan berarti berleha-leha. Besoknya, saya langsung di-drill sekolah.

Back to Desa Wisata

25 Oktober 2008 - Setelah di-drill dari Senin-Sabtu, saya mulai mengepak bekal untuk berjihad ke Batavia. Saat penerimaan hasbel mid (hasil belajar pertengahan semester), saya langsung berpamitan ke semua guru, termasuk Pak Tomo (kepala sekolah) dan teman-teman di kelas 9A. Teman-teman saya itu kadang nyeleneh.

“Ghamdan katanya mau pergi ke Jakarta, ya?”

“Iya.”

“Yes, Alhamdulillah! Kalau bisa seterusnya atau selamanya.”

“…..”

Saya mencoba mengontak koordinator lomba, ternyata penginapannya di Desa Wisata (seperti di Unforgettable Memories). Minggu pagi, ibuku dan Bu Etty sudah bersiap-siap. Pak Sigit (driver) langsung menancapkan gas ke airport. Karena kondisi badan yang agak kurang fit, maka diputuskan untuk naik burung besi. Awan mendung tidak kuhiraukan. Masih mending dapat snack selama penerbangan. 55 menit kemudian, aku langsung menjejakkan kaki di tanah Batavia. Gemuruh mesin jet agak membuat saya pangling (lupa) aku ini ada di mana. Biasanya kalau saya di Jakarta tujuan saya hanyalah liburan. Tapi kali ini it’s different. Mencari taksi yang betul-betul aman di Ibukota menjadi tantangan tersendiri. Naik taksi “burung biru” itu pilihan yang sudah dianggap paling tepat.

Bersambung…

Setelah pulang dari rumah adiknya eyang saya dengan membawa satu pot bunga, tiba-tiba mak jegagik ada barang asing di lantai mobil. Warnanya hijau agak lengket, suka loncat sendiri. Ternyata, itu adalah KATAK. Ibu saya kaget bukan kepalang. Mobilnya nyaris direm mendadak. Si katak meloncat hingga masuk ke dalam dashboard.


(si kodok nongkrong di mobil. Bawah: mobil ibu yang bau hajat si kodok)

Sesampainya di rumah, ibu langsung membuka semua pintu mobil. Kebetulan, sang paman ada di rumah (sekalian membantu mengusir binatang yang seharusnya hidup di sawah). Akhirnya, si kodong keluar dari mobil. Walaupun mobilnya bau hajat si kodok, tapi pada intinya semua masalah beres. Tampaknya, si kodok perlu jalan-jalan mengingat kodok tak bisa menyetir….

(barang yang sudah sangat langka di era ICT )

Ini sekedar intermezzo saja. Tak usah dimasukkan ke hati. Saat saya berkunjung ke kantor Koperasi Karyawan Suara Merdeka, saya terpana. Masih ada orang yang menggunakan mesin tik, walaupun ini sudah jamannya ICT (bhs. Inggrisnya TIK). Saya pun berkesempatan mencoba menggunakan mesin tik. Paman saya yang kerja di sini menunjukkan letak tas mesin tik? Tas? Ya, tasnya memang seperti tas laptop tapi beratn6ya lebih dari laptop. Wow…..Mesin tik yang bermerek Brother ini masih mulus luar dalam (tapi ada beberapa bagian yang udah karatan). Tintanya pun masih full. Tutsnya seperti keyboard komputer. Pas untuk kertas ukuran A4.

(Hal yang tak mungkin terjadi)

Saya coba mengetik “Memposting Tulisan Dengan Mesin Tik, Mungkinkah?”. Memang, hal itu tak mungkin terjadi. Kalau kita mengetik dengan mesin tik akan terjadi bunyi yang sangat keras. Jadi, orang akan terganggu karena suara ini. Kekurangan (bahasa kasarnya=kejelekan) dari mesin tik adalah tak dapat di-backspace (ya iya lah). Jadi, kalau ada tulisan salah terpaksa di tipp-ex (malah jadi jelek). Saya coba mengarang sedikt dengan mesin tik ini. Pegel ya…enakan komputer.

Memang mesin tik sudah mulai langka (atau bahkan sudah hilang) di permukaan bumi ini. Adanya komputer telah membuat orang pindah hati. Kalaupun ada, paling jarang yang beli. Ya, nasib….nasib…. Kalau harga mesin tik sekarang, saya tak tahu.Sudahlah, marilah kita menghadapi perkembangan global yang semakin tak terbendung.

mencoba mxit(Si Pepy [kiri] menikmati MXit)

Saya kaget, setiap saya masuk kelas, semua teman saya yang memiliki hp tampaknya sangat serius dalam menjalankan sebuah aplikasi. Ternyata, aplikasinya bukan aplikasi sembarangan. MXit namanya. Sebuah aplikasi chat yang berasal dari Afrika Selatan ini sudah meluas penggunaannya di seantero Espero (kalau di luar Espero belum tahu). Aplikasi ini memungkinkan kita cuap-cuap lebih murah dari SMS. Menggunakan GPRS tentunya. Saya mencoba meminjam hp salah satu teman saya. Masya Allah. Banyak sekali friend list-nya. Kayak friendster, bak kacang goreng laris.

Layaknya YM (Yahoo Messenger), para pengguna juga ada id-nya. Seperti apa contoh id-nya, saya lupa. Para pengguna juga dapat mengirimkan smiley, file foto & suara, dsb. Tentunya, para MXit user dapat membentuk sebuah chat room yang dinamakan MultiMX.

mxit logo
Yang lebih mengejutkan, saat istirahat, saat pulang, kapanpun, teman saya selalu menyempatkan untuk chatting dengan aplikasi ini. Matanya apa nggak capek ya? Mungkin ada teman saya yang Online 24 jam dan mempunyai slogan : “I can’t life without my MXit”. Ckckck…..Tapi, dampak negatifnya selain dampak kesehatan juga dampak biaya. Pulsa makin berkurang (ujung-ujungnya TP [transfer pulsa]). Orang tua semakin cas-cis-cus gara-gara aplikasi yang beukuran kurang lebih 140kb. It’s up to you

Teman-teman saya yang memiliki hp sangat senang dengan kehadiran aplikasi ini. Saya nggak punya hp? Bukan begitu. Saya males nginstall, nggak ada waktu (baca: capek). Sudah ya….

 

Kemeriahan perayaan Dirgahayu Proklamasi RI ke-63 sangat terasa di sekolah. SMPN 2 Semarang menyelenggarakan berbagai acara yang menarik untuk menyambut HUT RI ke-63. Ada pesta demokrasi di sekolah: pemilihan ketua OSIS. Setelah mengikuti upacara hari pramuka, seluruh murid bergegas menuju lapangan tengah untuk mencoblos. Mencoblosnya untuk memilih ketua OSIS periode 2008 - 2009. Layaknya pemilu, para pemilih diminta untuk registrasi, duduk di tempat tunggu dan mencoblos di bilik suara. Setelah itu, para pemilih akan diberi cap tinta di kelingking.

Selain pesta demokrasi, para siswa juga berpartisipasi dalam lomba-lomba yang diselerenggarakan. Lombanya pun bervariasi. Ada pertandingan futsal memakai daster, badminton, ambil koin di pepaya, tangkap belut, kebersihan kelas, dsb. Para guru juga tak mau luput dari kemeriahan ini. Para guru juga mengadakan lomba seperti membawa balon dengan kepala, voli tapi netnya ditutup dengan kain, pertandingan futsal bersama murid.

Bagi yang tak berpartisipasi dalam lomba, teman-teman saya bernarsis ria seperti ini:

Ini merupakan kemeriahan menyambut HUT RI yang terakhir di sekolah bagi saya, mengingat saya sudah berada di kelas paling atas (Kelas 9). Cepat sekali tak terasa :-)

Sekarang ini adalah jaman teknologi. Apa-apa harus pake komputer. Kalau lihat peta pake GPS (Global Positioning System). Tapi, itu tak berlaku bagi orang tuaku. Dalam perjalanan, terkadang kita bingung dan takut kesasar. Maka, kita bertanya kepada orang sekitar yang tahu jalannya. Misal:”Pak, Griya Pak Budi ingkang ngendi? (Pak, Rumah Pak Budi di mana?)”. Maka orang setempat akan menjawab dengan jelas. “Mangke bapak belok kiwa (Nanti bapak belok kiri).” Inilah salah satu keungulan tersendiri bila kita tanya kepada orang setempat. Daripada GPS, belum semua jalan tercover (tercakup) apalagi tak ada petunjuk Rumah Pak Budi di mana.

Sudahlah, setiap benda itu pastinya ada kekurangan. Kalau bingung, tanya aja. Malu bertanya, sesat di jalan

 

Kidzania, merupakan wahana permainan yang terletak di Pacific Place, SCBD, lt.6, Jakarta. Kidzania merupakan tempat untuk mencoba seperti apa cita-cita sang anak. Terdapat lebih dari 100 profesi yang bisa dijalani. Kidzania punya maskot yang lucu (seperti di foto, dari kiri ke kanan) namanya Urbano, Vita, Bache. Menurut informasi, cabang Kidzania baru ada 3 di dunia (Meksiko [negara asal Kidzania], Jepang, dan Indonesia [dalam hal ini Jakarta]). Jika Anda ingin membeli tiket untuk masuk ke Kidzania, sebaiknya Anda harus memesan jauh-jauh hari (lewat telpon atau internet). Pasalnya, peminatnya itu tidak sedikit. Antriannya panjang. Bahkan ada seorang ibu yang baru dapet tiket setelah mengantri 2 hari.

Ada 2 shift di sini. Untuk hari biasa, shift pertama pukul 09.00-14.00, shift kedua pukul 15.00-20.00. Waktunya sama kalau kita nonton film yang berdurasi 2 jam sebanyak 2 kali dan nongkrong di kafe 1 jam. Harga tiketnya aja juga membuat saya kejang (harga dibedakan menurut umur. Contoh, untuk anak-anak usia 4-13 tahun bayar 110 ribu, kalo weekend dan hari besar tinggal ditambah 40 ribu alias 150 ribu. Nah kalo 4 anak di hari Sabtu totalnya 600 ribu. Itu kalau saya cukup untuk beli flasdisk 128 MB 5 dus. Termpat ini terkesan seperti untuk anak wong duiten. Saya kebagian yang shift ke-2. Saat masuk, Anda akan dipasang sebuah gelang yang berfungsi sebagai pengganti ID dan cek. Nanti, cek itu ditukar untuk keperluan di sana. Mata uangnya bernama KidZos. Ceknya tadi senilai 50 Kidzos.

Pukul 15.00 tiba. Semua karyawan yang ada di dalam menari dan bernyanyi mars Kidzania. Para pengunjung mengira karyawan tersebut lagi sakit jiwa (nggak dibawa ke RSJ). “Bank” mulai penuh karena banyak anak mencairkan “cek” senilai 50 KidZos tersebut. “ATM”-nya juga ada dan mesinnya betulan. Pertama kali saya pergi ke “Painting School”. Untuk masuk arena dan keluar arena kita harus discan. ID-nya ya yang ada di gelang. Kalo kerja tugasnya gampang, cukup mewarnai gambari yang disediakan. Setelah selesai, anak-anak diberi “gaji” 8 Kidzos (semua arena yang bisa kerja gajinya sama). Kedua saya mencoba jadi apoteker. Memang, KidZania tempat yang tempat untuk mempromosikan barang dagangan. Misalnya, kalau di apotik “Kalau sakit minum Stimuno ya”. Tugasnya meracik obat dan ada yang jadi kasir.

Berikutnya, saya ke tempat pembuatan lolipop. Saat antri, ada anak yang dia anggap dia anak yang paling sugih. “Mau apa kamu, saya sudah 4 kali ke sini,” tutur sang anak dengan nada tinggi. Egois dan sombong banget ya. Saat masuk, kami disuruh memakai seragam, sarung tangan dan masker. Setelah itu, kita diajari membuat lolipop. Lolipopnya ya bawa pulang. Wah, kalo di Kidzania selain menghargai uang setelah bekerja sesuai cita-cita, kita juga harus bisa sabar dalam mengantri permainan yang ada di sana. Sistemnya role play (gantian).

Setelah itu saya ke “stasiun tv”. Untuk menentukan profesi di “studio”, diundi dulu siapa yang jadi. Untungnya saudara saya dan saya masuk ke depan kamera (tampil di tv). Wah seru banget deh. Saudara saya jadi presenter. Baca aja belum lancar, masa’ baca Kidzania jadi Kidzina :-)  Tak terasa waktu cepat berlalu. Banyak permainan yang belum saya coba. Apalagi, sampe Kidzania ditutup, saya belum puas. Maklum, baru pertama kali. Apalagi, orang tua yang nunggu anaknya main di Kidzania sampai teler. 

 

 

Renungkanlah! Kita ini manusia yang tak sempurna. Pasti mempunyai banyak kesalahan. Apakah kita telah bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa? Kalau mengucapkan Alhamdulillah atau Terima Kasih itu belum cukup. Kita harus imbangi dengan tingkah laku kita.Bila kita mendapatkan kesehatan, jagalah dirimu agar tak sakit. Bila kita mendapatkan kepintaran, manfaatkanlah dengan belajar. Bila kita mendapatkan rezeki, manfaatkanlah secukupnya. Bila kau membuat kesalahan, minta maaflah dan jangan ulangi itu lagi.

Tingkah laku kita didasari 2 faktor:

  • Sabar. Bukan berarti kita diam. Kita sholat dan meminta doa, apakah itu diam? Tidak. Sabar yang dimaksud disini adalah kita bertingkah laku yang sopan. Jangan marah bila kau melakukan sesuatu apa yang tak kau senangi.
  • Niat. Apa niat kita ketika kita berbuat sesuatu. Bila kita mau ke masjid tapi niatnya nyolong (mencuri) sandal, itu sudah dosa.

Bila kau menghadapi masalah yang sangat berat, jangan lari ke hal yang negatif. Ingatlah, bila kita berbuat baik kepada semua orang niscaya masa depan kita akan baik :-) 

Orang itu ngeh (malas) kalau membuka sebuah halaman website yang sangat lama. Alasannya: ukuran gambar sangat besar. Jika komputer Anda terdapat Photoshop dan ImageReady, cobalah.

Pertama, siapkan foto yang ingin Anda kompres.

Kemudian, klik File-Save to Web.


Lalu, muncul dialog box.

 

Jika belum pernah disetting klik Edit In ImageReady.


Lalu pilih kecepatan internet yang minimum.


Setelah itu, masuk kembali ke Save To Webnya Photoshop.


Pastikan Qualitynya pada posisi 0.

Klik Save dan ikuti proses penyimpanan. Kini, gambar Anda telah terkompres.

Akhir riwayat Regghenamont (sebutan kelas 8G TA 2007/ 2008 ) disyukuri dengan meriah di RM. Lesehan & Pemancingan Baron, di bilangan Dr. Suratmo, Semarang. Seluruh murid 8G termasuk wali kelas dan wakil pengajar berangkat dari lapangan depan SMPN 2 Semarang dengan menyarter angkot pada pukul 13.30. Selama perjalanan, suasana di dalam angkot sangat menyenangkan karena diisi berbagai macam humor. Tak terasa, 1 jam perjalanan kami sampai di tempat tujuan. Acara pembuka adalah sumbang suara (menyanyi) oleh wali kelas kami (Pak Dar).

Selanjutnya, diisi dengan salam oleh MC (Agra & Nineteen ). Yang unik dari acara ini adalah ketika sang ketua kelas (saya sendiri) menyampaikan sambutan. Saya salah mengucapkan susunan hormat. Sampai-sampai saya nyaris “melupakan” wali kelas saya. “Yang terhormat wakil pengajar, wali kelas dan teman-teman yang saya banggakan.”. Itulah pengucapan saya saat pembukaan sambutan. Saya terkesan seperti gelagapan dan sering lupa mau ngomong apa. Kemudian disusul pembukaan wali kelas. Dalam sambutan beliau, pada intinya kami dituntut agar dapat meraih kesuksesan dalam belajar.

Acara intinya adalah penganugerahan gelar bagi murid 8G yang narsis, gokil, dll. Widy Ageng dinobatkan sebagai murid paling narsis di 8G. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan-makan. Makannya seperti orang Jepang. Suki, lho. Bagi yang tak terbiasa dengan masakan Jepang (seperti saya) agak repot. Tapi yang penting kenyang di perut dan senang di hati. Setelah makan-makan, kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Wuih, saya memang sempat merenung bahwa ini adalah perjumpaan terakhir bersama teman-teman dan guru sebagai murid 8G. Dalam kesempatan foto-foto, teman-teman saya saling unjuk ke-narsis-an. Ada yang foto di tengah tambak, di tengah jembatan, dsb. Laki dan perempuan sama saja.

Kalau saya? Ya mendokumentasikan momentum syukuran ini. Tahun ajaran 2007 / 2008 di kelas 8G dilalui dengan penuh kegembiraan bahkan kesedihan yang sangat berarti. Keburukan di kelas 8 tak akan diulangi di kelas 9. Teman-teman saya sangat rindu dengan suasana di 8G. Mereka ingin teman sekelasnya sama dengan semua murid 8G. Tapi, itu tak mungkin. Saat perjalanan pulang, teman saya jadi VJ-VJ-nan karena saya menjadi kameramennya. Kebanggaan kelas 8G, weblog yang beralamatkan di regghenamont.wordpress.com tidak diwariskan ke kelas 8G yang baru karena ada suatu alasan.

Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman dan para guru yang mengajar atas kerjasamanya selama setahun. Memang, kami ini manusia yang tak sempurna. Selalu banyak kesalahan. Maka dari itu, maafkanlah kesalahan yang terjadi ketika berada di kelas 8G.

Adios……